Langsung ke konten utama

Ditawarkan, Kompres Luka dari Ekstrak Tanaman Lidah Buaya (Aloe Vera)

Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya berhasil membuat inovasi baru penyembuh luka dari ekstrak Aloe Vera. Menurut empat mahasiswa yang menelitinya, yaitu Muhammad Hidayatullah Al-Muslim (2016), Dinda Dhia Aldin Kholidiyah (2016), Kusnul Oktania (2016) dan Retno Dwi Susanti (2014), inovasi baru penyembuh luka ini diberi nama KOMPAS kependekan dari “Kompres Penyembuh Luka Aloe Vera”.
“Kami memutuskan untuk membuat kompres luka dari tanaman lidah buaya (Aloe vera) ini dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa yang didanai Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, karena Aloe Vera mempunyai potensi cukup besar sebagai bahan baku obat alami,” kata Retno Dwi Susanti, mewakili tim PKM ini, kemarin di kampusnya.
Tanaman lidah buaya (Aloe vera) lebih dikenal masyarakat sebagai tanaman hias. Padahal tanaman ini mengandung berbagai zat aktif yang dapat dipakai untuk menyembuhkan luka. Oleh karena itu Retno dan kawan-kawannya memanfaatkan aloe vera dalam penelitian ini.  Selain itu, lidah buaya pasti berpeluang untuk menjadi komoditas perdagangan yang besar.
Menurut Retno, anggota paling senior di tim PKM ini, Aloe Vera terdapat kandungan saponin dan flavonoid, bahkan juga mengandung tanin dan polifenol. Saponin itu mempunyai kemampuan sebagai pembersih sehingga efektif untuk menyembuhkan luka, sedangkan tanin dapat digunakan sebagai pencegahan terhadap infeksi luka karena mempunyai daya antiseptik. ”Jadi cukup efektif dijadikan sebagai penyembuh luka,” lanjutnya.
Ditambahkan oleh Muhammad Hidayatullah Al-Muslim, ketua PKMK ini, bahwa kreativitas “KOMPAS” ini merupakan produk kompres luka yang ampuh dapat menyembuhkan luka dan cukup praktis untuk dipakai. Penggunaannya cukup dengan membersihkan luka terlebih dahulu, kemudian menempelkan KOMPAS pada luka tersebut.
”Orang-orang lebih sering mengira bahwa luka harus dibuat kering dan diangin-anginkan agar cepat sembuh. Padahal kondisi lembap bisa membantu sel fibroblas membentuk jaringan baru yang menutup luka. Jadi kelembapan juga mengurangi jumlah eksudat atau cairan yang keluar dari luka,” jelas Dayat, panggilan akrabnya.
Memang, perawatan luka yang baik dengan menggunakan pembalut luka modern, seperti plester, yang bisa menjaga kelembapan luka. Untuk itu dianjurkan untuk tidak menggunakan kain kasa, karena kain kasa tidak bisa menjaga kelembapan luka dan membuat proses penyembuhan luka menjadi lebih lama.
”Berbeda dengan luka yang sudah lama, yang sudah bernanah misalnya, maka perawatannya tidak perlu ditutup. Dibiarkan terbuka saja. Jadi dengan adanya produk KOMPAS ini, kami harapkan sangat efektif untuk proses penyembuhan luka,” timpal Kusnul Oktania, anggota PKMK KOMPAS ini.
Ditanya wartawan tentang kemasannya? Dijawab oleh Dinda Dhia, dalam satu kemasan berisi tiga biji KOMPAS. “Kalau kita jual per kemasan harganya Rp 15.000, tapi kalau ada yang ingin membeli per biji, kami siap melayani juga. Jadi kalau per biji kita menjualnya Rp 5.000, kata Dinda.
Sumber : http://news.unair.ac.id/2017/07/03/ditawarkan-kompres-luka-dari-ekstrak-tanaman-lidah-buaya-aloe-vera/



Daftar Fakultas Di Universitas Airlangga
1.      Fakutas Kedokteran
3.      Fakultas Hukum
6.      Fakultas Vokasi
8.      Fakultas Keperawatan
9.      Fakultas Farmasi
Cari Artikel terkait Riset Anda : http://repository.unair.ac.id/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yel-Yel Bikin Semarak, Lomba Mahasiswa Asing Bikin Ketawa

UNAIR NEWS –  Suasana halaman gedung Rektorat UNAIR terasa begitu ramai Kamis pagi (17/8). Lomba-lomba dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan ke-72 Republik Indonesia dihelat dengan meriah. Para sivitas akademika begitu bergairah dan penuh semangat. Ada lomba yel-yel, sepeda lambat, parikan dan karaoke bahasa Jawa. Lomba yel-yel diikuti semua unit di UNAIR . Para peserta tak segan menampilkan busana yang penuh aksesoris sebagai bentuk totalitas. Peserta dari  Pusat Informasi dan Humas (PIH), misalnya. Mereka mencoret pipi, memakai wig dan hiasan kepala, serta mengenakan hiasan rumbai-rumbai tali raffia pada pinggang. Mereka menggubah lagu Goyang Bang Jali yang dipopulerkan Denny Cagur menjadi Goyang Merdeka. Tepuk tangan meriah dan sorak sorai bersahutan usai penampilan tim yang memakai busana bernuansa merah maroon tersebut. Setelah mereka, tampil tim dari Rumah Sakit UNAIR. Mereka membawa tabuh-tabuhan sederhana yang digunakan untuk mengiringi yel-yel. Para penabuh...